Monday, October 31, 2011

Seri Syarh Nukhbatul Fikar (bagian 1)

Syarh Nukhbatul Fikar (bagian 1)

Muqaddimah

Mengenal Kitab Nukhbatul Fikar
            Nukhbatul fikar adalah kitab ringkasan ilmu musthalahul hadits yang ditulis oleh ulama besar Syaikhul Islam Ahmad ibn Ali atau yang lebih dikenal dengan Ibnu Hajar rahimahullah. Kitab ini sangat ringkas berisi definisi-definisi dan istilah-istilah yang digunakan para ulama hadits.

Kitab-kitab ringkasan seperti ini sering kita kenal dengan sebutan kitab matan. Apa fungsi dari kitab-kitab ringkasan seperti ini. Kitab matan adalah kitab yang didedikasikan bagi mereka yang baru mempelajari sutu disiplin ilmu. Biasanya para penuntut ilmu yang baru memulai pembalajaran menghafal kitab-kitab matan kecil seperti ini. Di setiap disiplin ilmu akan kita temui kitab ringkasan semacam Nukhbatul Fikar ini. Dalam disiplin ilmu aqidah kita akan temukan matan Aqidah Thahawiyah, dalam disiplin ilmu Ushul Fiqih kita akan temukan matan Waraqat, dalam disiplin ilmu tajwid kita juga akan temukan matan Muqaddimah Jazariyyah, dan masih banyak lagi. Ini semua sangat bermanfaat bagi para penuntut ilmu.

Nah, kitab Nukhabatul Fikar ini juga demikian. Kitab ini adalah matan terendah dalam disiplin ilmu musthalahul hadits. Hendaknya bagi seorang pemula yang ingin memperdalam ilmu hadits agar mempelajari kitab-kitabnya mulai dari yang terendah kemudian bertahap sampai kepada kitab yang pembahasannya lebih luas.



Mengapa harus dari yang paling ringkas?
Inilah salah satu tradisi para salaf yang luntur. Sering kita temukan beberapa penuntut ilmu langsung membaca dan mengkaji kitab yang besar, seperti Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari. Ada kebanggaan tersendiri manakala mereka telah menamatkan mengkaji kitab yang besar. Atau bahkan ada yang bangga hanya dengan satu dua kali hadir di kajian kitab yang besar. Padahal para salaf dulu memulai belajar mereka dari hal-hal yang ringkas.  

Seorang anak bayi tidak mungkin langsung bisa makan nasi ketika baru dilahirkan. Selama enam bulan pertama dia tidak makan apa-apa kecuali ASI. Diapun tidak mungkin langsung bisa berlari seperti orang dewasa. Semuanya pasti mengalami proses dari yang awalnya sederhana hingga nanti menjadi istimewa. Begitu pula menuntut ilmu. Sering kita temukan para ikhwah penuntut ilmu terburu-buru dalam belajar. Ingin menjadi Ibnu Taimiyyah hanya dalam waktu semalam. Ini tidak mungkin, dan ini menunjukkan ketidaksabaran mereka dalam menuntut ilmu.

Menuntut ilmu dari matan yang rendah bertahap sampai yang paling luas mencerminkan kesabaran seorang penuntut ilmu dalam belajar. Ini pula yang dicontohkan para salaf. Jika kita mengaku sebagai salafiyyin hendaknya kita mengikuti jejak para salaf dalam menuntut ilmu.
  
Kajian pertama : 
Muqaddimah Kitab Nukhbatul Fikar

Syaikhul Islam Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan dalam Nukhbahnya:

الحَمدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَزَلْ عَلِيمًا قَدِيرًا وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِي أَرْسَلَهُ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا
 أَمَّا بَعْدُ:
 فَإِنَّ التَّصَانِيفَ فِي اصْطِلاَحِ أَهلِ الحَدِيثِ قَدْ كَثُرَتْ وَبُسِطَتْ وَاخْتُصِرَتْ فَسَأَلَنِي بَعْضُ الإِخْوَانِ أَنْ أُلَخِّصَ لَهُ المُهِمَّ مِنْ ذَلِكَ فَأَجَبْتُهُ إِلَى سُؤَالِهِ رَجَاءً الاِنْدِرَاجَ فِي تِلْكَ المَسَالِكِ.
"Segala puji bagi Allah Yang senantiasa bersifat Alim dan Qadir. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa salam. Yang diutus kepada segenap umat manusia untuk memberi peringatan dan kabar kembira bagi mereka. Dan juga kepada keluarga beliau, para sahabat, semoga Allah melimpahkan keselamatan kepada mereka.
Amma ba'du:
Telah banyak ditulis karangan-karangan yang membahas ilmu Mushthalah Ahli Hadits, ada yang berupa penjelasan luas dan ada pula yang berupa ringkasan. Sebagian ikhwah memintaku untuk merangkum poin-poin penting dari ilmu tersebut. Akupun memenuhi permintaan mereka dengan harapan agar mereka dapat mempelajarinya secara bertahap".


PENJELASAN
Setelah Syaikhul Islam Ibnu Hajar memulai kitabnya dengan hamdalah dan shalawat, beliau menjelaskan sebab penulisan kitab ini. Apa sih yang mendorong beliau untuk menulis kitab ini? Beliau telah menjelaskan bahwa tulisan-tulisan atau karya ilmiah di bidang mushthalahul hadits telah banyak ditulis oleh para ulama. Ada yang berupa kitab-kitab dengan pembahasan yang meluas seperti Ma'rifatu Ulumil Hadits yang ditulis oleh Imam Hakim An-Naisaburi. Adapula yang ringkas seperti Ulumul Hadits atau yang lebih kita kenal dengan Muqaddimah Ibnu Shalah. Nah, banyaknya kitab-kitab yang membahas ilmu musthalahul hadits terkadang membingungkan beberapa penuntut ilmu yang baru belajar. Maka sebagian dari mereka meminta kepada Syaikhul Islam untuk meringkas lagi kaidah-kaidah dari ilmu tersebut dengan memilih poin-poin yang paling penting. Agar para penuntut ilmu yang masih pemula tidak kesulitan dalam memahamami ilmu tersebut.

Apa sih ilmu mushthalahul hadits ini?
Para ulama mendefinisikan ilmu mushthalahul hadits sebagai berikut:
Ilmu tentang kaidah dan aturan untuk meneliti dan mengetahui apakah sanad dan matan suatu hadits bisa diterima atau tidak.

Dari definisi di atas dapat kita ketahui, apa saja yang di bahas di dalam ilmu ini. "Ilmu tentang kaidah dan aturan" dengan demikian dapat kita ketahui bahwa kita akan mempelajari kaidah kaidah dan aturan. Untuk apa kaidah-kaidah tersebut? "Untuk meneliti dan  mengetahui apakah sanad dan matan suatu hadits bisa diterima atau tidak".  Apa yang menjadi objek penelitian dalam ilmu ini, tentunya sanad dan matan hadits sebagaimana disebutkan dalam definisi di atas. Nah trus,  apa itu sanad hadits dan apa itu matan hadits. 

Untuk lebih mengerti, berikut kami bawakan contoh hadits beserta sanadnya:
قال البخاري: حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِىُّ عَبْدُ اللهِ بْنُ الزُّبَيْرِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الأَنْصَارِىُّ قَالَ أَخْبَرَنِى مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِىُّ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِىَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ  رضى الله عنه  عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ  صلى الله عليه وسلم  يَقُولُ :
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ.

 Artinya:
Imam Bukhari mengatakan: haddatsana Al-Humaidi Abdullah bin Zubair, dia mengatakan: haddatsanaYahya bin Said Al-Anshari, dia mengatakan: akhbarani Muhammad bin Ibrahim At-Taimi bahwasanya dia mengatakan: aku mendengar Alqamah bin Waqqas Al-Laitsi mengatakan: aku mendengar Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu (berkhutbah) di atas mimbar mengatakan: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam bersabda:
Setiap amal perbuatan pasti didasari dengan niat, dan setiap orang pasti akan mendapatkan apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang niat hijrahnya karena kenikmatan dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya hanya akan sampai pada niatnya itu.

Perhatikan rangakaian perawi dari Al-Humaidi sampai Umar bin Khattab. Rangkaian perawi inilah yang disebut sanad hadits. Atau sering kita dengar para ulama hadits menggunakan istilah isnad. Sanad ataupun isnad maknanya sama. Maka bisa kita katakan isnad hadits adalah jalur periwayatan hadits yang berupa rangkaian para perawi sampai kepada siapa yang berbicara. Karena ini adalah hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam maka yang berbicara adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam.
            
Dalam isnad hadits di atas kita akan dapati istilah haddastana dan akhbarana. Sengaja tidak saya terjemahkan karena istilah tersebut adalah istilah khusus para perawi hadits. Dan tidak ada padanan katanya di dalam bahasa Indonesia. Tentang istilah haddatsana dan akhbarana insya Allah akan ada pembahasannya tersendiri di dalam kitab ini. Agar tidak membuat para pembaca sekalian bingung, simpelnya haddatsana dan akhbarana berarti "menyampaikan hadits kepada kami". Namun terdapat perbedaan diantara keduanya. Meskipun sama-sama menyampaikan keduanya berbeda dari segi metode penyampaian yang mana salah satu dari keduanya lebih kuat dari yang lain. Istilahhaddatsana lebih kuat dari istilah akhbarana. Dan para ahli hadits ketika meriwayatkan tidak berani mengubah istilah-istilah tersebut. Nah, pada hadits di atas Imam Bukhari tidak berani mengubah istilahhaddatsana yang didengar dari gurunya Imam Humaidi. Sebagaimana Imam Humaidi mengatakanhaddatsana Yahya, maka kalimat itu pula yang disampaikan oleh Imam Bukhari ketika meriwayatkan. Hal ini karena periwayatan hadits merupakan perkara amanat yang harus disampaikan. Sebagaimana seorang perawi mendengar maka begitu pula yang harus disampaikan.

            Maka sayapun ketika menerjemahkan tidak berani mengubah istilah tersebut, karena tidak ada padanan kata di dalam bahasa Indonesia yang sesuai dengan tradisi tersebut.
            Kemudian perhatikan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa salam dari awal sampai akhir. Sabda beliau inilah yang disebut matan hadits. Bisa kita katakan bahwa matan hadits adalah isi atau kandungan hadits tersebut. Matan hadits dapat berupa ucapan lisan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam. Ada pula kita temui matan hadits berupa kisah atau perbuatan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam yang disampaikan oleh para sahabat.
            Nah, setelah kita tahu apa itu sanad dan apa itu matan. Selanjutnya di dalam ilmu mushthalah hadits ini kita akan meneliti sanad yang bagaimana yang bisa di terima? Matan yang bagaimana yang bisa diterima? Apa syarat-syaratnya? Bagaimana sifat-sifatnya? Ini semua akan kita pelajari bersama di dalam kitab ini insya Allah.

bersambung ke seri 2

oleh :  Haidir Rahman Rz
 pada 30 Oktober 2011 jam 21:24


No comments:

Post a Comment

Sekilas Info

SEKILAS INFO Bismillah Alhamdulillah Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam, keluar...