Showing posts with label Mushthalah Hadits. Show all posts
Showing posts with label Mushthalah Hadits. Show all posts

Wednesday, November 2, 2011

Seri Syarh Nukhbatul Fikar (bagian 3)


Syarah Nukhbatul Fikar (bagian 3)

Materi Ketiga : Khabar Mutawatir

Syaikhul Islam Ibnu Hajar mengatakan di dalam Kitab Nukhbatul Fikar:

فَأَقُولُ : الخَبَرُ إِمَّا أَنْ يَكُونَ لَهُ :
- طُرُقٌ بِلاَ عَدَدٍ مُعَيَّنٍ
- أَوْ مَعَ حَصْرٍ بِمَا فَوقَ الاِثْنَتَيْنِ
- أَوْ بِهِمَا
- أَوْ بِوَاحِدٍ
 فَالأَوَّلُ : المُتَوَاتِرُ المُفِيدُ لِلعِلْمِ اليَقِينِيِّ بِشُرُوطِهِ
 وَالثَّانِي : المَشْهُورُ وَهُوَ المُسْتَفِيضُ عَلَى رَأْيٍ
 وَالثَّالِثُ : العَزِيزُ وَلَيسَ شَرْطًا لِلصَّحِيحِ خِلاّفًا لِمَنْ زَعَمَهُ
 وَالرّابِعُ : الغَرِيبُ
 وَكُلُّهَا - سِوَى الأَوَّلِ - آحَادٌ وَفِيهَا المَقْبُولُ وَالمَرْدُودُ لِتَوَقُّفِ الاِستِدْلاَلِ بِهَا عَلَى البَحْثِ عَنْ أَحْوَالِ رُوَاتِهَا دُونَ الأَوَّلِ وَقَدْ يَقَعُ فِيهَا مَا يُفِيدُ العِلْمَ النَّظَرِيَّ بِالقَرَائِنَ عَلَى المُخْتَارِ.

Terjemahan / Artinya:
Maka aku katakan: Suatu Khabar ada yang memiliki:
- jalur periwayatan yang banyak dan jumlahnya tidak menentu.
- adapula yang memiliki jalur periwayatan lebih dari dua dengan jumlah tertentu.
- adapula yang hanya dua.
- bahkan ada yang memiliki satu jalur saja.

Monday, October 31, 2011

Seri Syarh Nukhbatul Fikar (bagian 2)


Syarh Nukhbatul Fikar (bagian 2)

Kajian Kedua : Pembagian Khabar berdasarkan Banyaknya jalur periwayatan.

Syaikhul Islam Ibnu Hajar mengatakan di dalam Kitab Nukhbatul Fikar:

فَأَقُولُ : الخَبَرُ إِمَّا أَنْ يَكُونَ لَهُ :
- طُرُقٌ بِلاَ عَدَدٍ مُعَيَّنٍ
- أَوْ مَعَ حَصْرٍ بِمَا فَوقَ الاِثْنَتَيْنِ
- أَوْ بِهِمَا
- أَوْ بِوَاحِدٍ
 فَالأَوَّلُ : المُتَوَاتِرُ المُفِيدُ لِلعِلْمِ اليَقِينِيِّ بِشُرُوطِهِ
 وَالثَّانِي : المَشْهُورُ وَهُوَ المُسْتَفِيضُ عَلَى رَأْيٍ
 وَالثَّالِثُ : العَزِيزُ وَلَيسَ شَرْطًا لِلصَّحِيحِ خِلاّفًا لِمَنْ زَعَمَهُ
 وَالرّابِعُ : الغَرِيبُ
 وَكُلُّهَا - سِوَى الأَوَّلِ - آحَادٌ وَفِيهَا المَقْبُولُ وَالمَرْدُودُ لِتَوَقُّفِ الاِستِدْلاَلِ بِهَا عَلَى البَحْثِ عَنْ أَحْوَالِ رُوَاتِهَا دُونَ الأَوَّلِ وَقَدْ يَقَعُ فِيهَا مَا يُفِيدُ العِلْمَ النَّظَرِيَّ بِالقَرَائِنَ عَلَى المُخْتَارِ.

Terjemahan/Artinya:

Seri Syarh Nukhbatul Fikar (bagian 1)

Syarh Nukhbatul Fikar (bagian 1)

Muqaddimah

Mengenal Kitab Nukhbatul Fikar
            Nukhbatul fikar adalah kitab ringkasan ilmu musthalahul hadits yang ditulis oleh ulama besar Syaikhul Islam Ahmad ibn Ali atau yang lebih dikenal dengan Ibnu Hajar rahimahullah. Kitab ini sangat ringkas berisi definisi-definisi dan istilah-istilah yang digunakan para ulama hadits.

Kitab-kitab ringkasan seperti ini sering kita kenal dengan sebutan kitab matan. Apa fungsi dari kitab-kitab ringkasan seperti ini. Kitab matan adalah kitab yang didedikasikan bagi mereka yang baru mempelajari sutu disiplin ilmu. Biasanya para penuntut ilmu yang baru memulai pembalajaran menghafal kitab-kitab matan kecil seperti ini. Di setiap disiplin ilmu akan kita temui kitab ringkasan semacam Nukhbatul Fikar ini. Dalam disiplin ilmu aqidah kita akan temukan matan Aqidah Thahawiyah, dalam disiplin ilmu Ushul Fiqih kita akan temukan matan Waraqat, dalam disiplin ilmu tajwid kita juga akan temukan matan Muqaddimah Jazariyyah, dan masih banyak lagi. Ini semua sangat bermanfaat bagi para penuntut ilmu.

Nah, kitab Nukhabatul Fikar ini juga demikian. Kitab ini adalah matan terendah dalam disiplin ilmu musthalahul hadits. Hendaknya bagi seorang pemula yang ingin memperdalam ilmu hadits agar mempelajari kitab-kitabnya mulai dari yang terendah kemudian bertahap sampai kepada kitab yang pembahasannya lebih luas.

Seri Syarh Ringkas Al-Mandzumah Al-Baiquniyyah (bagian 5)


Syarh Ringkas Al-Mandzumah Al-Baiquniyyah (5) – Selesai

وَالْمُنْكَرُ الفَرْدُ بِهِ رَاوٍ غَدَا           تَعْدِيْلـُهُ لاَ يَحْمِلُ التَّفَرُّدَا
Munkar adalah hadis yang menyendiri seorang rawi dengannya, dalam kondisi
Keadilannya tidak mencapai derajat rawi yang pantas menyendiri
Munkar, menurut kebanyakan para ahli ilmu adalah hadis yang seorang rawi menyendiri sementara rawi tersebut bukanlah orang yang pantas menyendiri dalam riwayat seperti ini. Menyendiri maksudnya adalah hadis yang ia riwayatkan itu tidak dikenal dari para perawi yang lain, baik dari jalur periwayatan ia sendiri atau dari jalur periwayatan yang lain.
Dari definisi ini, munkar memiliki kaitan yang erat dengan gharib dan fard. Bedanya hanyalah istilah munkar khusus untuk yang salah satu perawinya adalah orang yang tidak mencapai derajat rawi yang pantas/boleh menyendiri dalam periwayatan tersebut.

Seri Syarh Ringkas Al-Mandzumah Al-Baiquniyyah (bagian 4)

Syarh Ringkas Al-Mandzumah Al-Baiquniyyah (4)

وَالْفَرْدُ مَا قَيَّدْتَـهُ بِثـِقَةِ         أَوْ جَمْعٍ اوْ قَصْرٍ عَلىَ رِوَايَةِ
Dan hadis fard (menyendiri) adalah yang engkau ikat dengan rawi tsiqah
Atau dengan jamaah, atau dengan pembatasan pada sebuah riwayat
Selanjutnya hadis fard, yang secara bahasa artinya menyendiri. Hadis fard terbagi dua. Pertama, fard mutlak; yaitu hadis yang diriwayatkan dengan satu jalur periwayatan. seorang rawi menyendiri dalam periwayatan hadis tersebut dan tidak ada yang menyepakatinya.

Seri Syarh Ringkas Al-Mandzumah Al-Baiquniyyah (bagian 3)


Syarh Ringkas Al-Mandzumah Al-Baiquniyyah (3)



وَكُلُّ مَا قَلَّتْ رِجَالُهُ عَلاَ           وَضِدُّهُ ذَاكَ الَّذِيْ قَدْ نَزَلاَ
Dan setiap hadis yang sedikit rijalnya, maka ia tinggi (aaly)
Dan yang sebaliknya, maka ia turun (nazil)
Selanjutnya penulis menyebutkan istilah aaly dan nazil. Kedua istilah ini adalah diantara bahasan hadis yang hanya terkait dengan sanad, dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan matn. Sanad Aaly adalah sanad yang jumlah perawinya sedikit. Sehingga antara seorang muhaddis dengan Rasulullah hanya terdapat beberapa jumlah perawi saja. Sedangkan nazil adalah kebalikan dari aaly, ia adalah sanad yang jumlah perawinya banyak.
Tentu saja masalah aaly dan nazil ini bersifat relatif. Karena sebuah sanad terkadang disebut aaly saat dibandingkan dengan suatu sanad, namun disebut nazil jika dibandingkan dengan sanad yang lain. Begitu juga dengan sanad nazil.

Seri Syarh Ringkas Al-Mandzumah Al-Baiquniyyah (bagian 2)

Syarh Ringkas Al-Mandzumah Al-Baiquniyyah (2)



وَمَا أُضِيْفَ لِلنَّبِي الْمَرْفُـوْعُ          وَمَا لَتَابِـعٍ هُوَ الْمَقْطُوْعُ
Dan yang disandarkan kepada Nabi adalah marfu’
Dan yang disandarkan kepada tabi’in adalah maqthu’
Pada bait ini penulis menjelaskan dua istilah hadis yang hanya terkait dengan matn; ia adalah marfu’ dan maqthu’. Khabar, dari sisi kepada siapa ia disandarkan memiliki beberapa kondisi:
  1. Disandarkan kepada Nabi. Inilah yang disebut marfu’
  2. Disandarkan kepada Shahabat. Inilah yang disebut mauquf (sebagaimana akan datang dalam nadzm ini)
  3. Disandarkan kepada tabi’in dan yang setelahnya. Inilah yang disebut maqthu’
Istilah-istilah ini hanya berkaitan dengan soal penisbatan matnnya, terlepas dari kondisi sanadnya yang muttashil (bersambung) atau tidak. Maka hardis marfu’ bisa saja ia mursal, munqathi, mu’allaq dll, atau ia shahih, hasan atau dhaif.

Seri Syarh Ringkas Al-Mandzumah Al-Baiquniyyah (bagian 1)

Syarh Ringkas Al-Mandzumah Al-Baiquniyyah (1)




Pengantar Ilmu
Nama Ilmu
Ilmu Mushthalah Hadis, Ushul Hadis, atau Kaidah-kaidah Hadis.
Definisi Ilmu
Kaidah-kaidah yang dengannya dapat diketahui kondisi-kondisi para perawi (sanad) dan riwayat (matn); dari sisi diterima atau ditolaknya.
Objek pembahasan
Sanad dan Matn; dari sisi diterima dan ditolaknya.
Faidah mempelajarinya
Kemampuan membedakan hadis yang shahih (hujjah) dari yang dhaif (bukan hujjah).
Keutamaan mempelajarinya
Imam Nawawi berkata, “Ilmu hadis adalah diantara ilmu yang paling utama, yang mendekatkan kepada Rabb semesta alam. Bagaimana tidak, ia adalah penjelasan atas jalan sebaik-baik makhluk, yang dahulu dan yang terakhir.”[1]

Sekilas Info

SEKILAS INFO Bismillah Alhamdulillah Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam, keluar...